Cerita Banyuwangi, Cerita Lampung Timur: Tanggapan Atas Budi Hutasuhut (Bagian 1/3)



Lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain belalang. Pepatah itu sepertinya masih sangat pantas untuk “membandingkan” (istilah membandingkan adalah istilah yang digunakan oleh Budi Hutasuhut dalam tulisan Manusia Lampung Timur Tujuan Awal, Baru Kemudian Pariwisata) antara Banyuwangi dan Lampung Timur tentang pariwisatanya. Masing-masing daerah memiliki lokalitas dan kearifan budaya yang berbeda.

Kabupaten Banyuwangi semula adalah Kerajaan Blambangan, dan Suku Using adalah suku asli Banyuwangi yang menolak tunduk terhadap Belanda. Bahkan ada yang mengatakan, Using itu berasal dari kata sing, yang berarti tidak, diucapkan ketika tentara Belanda menanyakan apakah mereka orang Jawa. Cerita tentang suku Using, yang kini secara lebih mudah ditemui di Desa Kemiren, Glagah Kabupaten Banyuwangi, bisa dibaca juga kisahnya secara lebih lengkap di buku Kebudayaan Jawa, karya Koentjaraningrat, (1994, cetakan kedua), terbitan Balai Pustaka, buku Ensiklopedia: Kearifan Lokal Jawa, karya Asep Ruhimat, dkk, (2011), terbitan Tiga Serangkai, atau hasil peneletian Anastasia Murdyastuti, dkk, 2013, Kebijakan Akselerasi Pengembangan Kawasan Wisata Using Berbasis Democratic Governance, yang diterbikan oleh Universitas Jember.

Anggapan suku Using tidak pernah terdesak dan tetap menjadi suka dominan di Banyuwangi agaknya juga perlu diluruskan, ada banyak suku yang hingga hari ini mendiami Banyuwangi, seperti Jawa Kulonan, Bali, Madura, Bugis, Arab dan Cina. Di beberapa tempat di Banyuwangi, terjadi proses asimilasi budaya, namun di beberapa tempat lain, suku Using tetap berusaha mempertahankan budayanya sehingga mereka bisa menunjukkan dirinya sebagai orang Using atau Wong Blambangan, umumnya mereka berdomisi di pedesaan seperti di Kemiren dan beberapa desa lainnya dengan mata pencaharian bercocok tanam, (penjelasan terkait ini, silahkan baca tulisan Mustamar Sunarti, Magis, Seks dan Cinta dalam Sastra Lisan Using, dalam Jurnal Semiotika, 2005:132).

Riset tentang Strategi Pengembangan Pariwisata Kabupaten Lampung Timur, yang dibiayai secara mandiri oleh Universitas Muhammadiyah Metro (UMM), bukanlah perjalanan pertama dan satu-satunya yang menghantarkan saya tiba di Banyuwangi untuk belajar dan mendapatkan pengetahuan tentang daerah ini. Semasa kecil, saya pernah tinggal dan bermain di Banyuwangi. Banyuwangi kala itu seperti zaman kegelapan, di usia yang masih kanak-kanak, ketika terpaksa harus telah menikmati irama genit perempuan-perempuan paruh baya yang berkeliling perahu-perahu nelayan, sembari berteriak-teriak “alas koran tiga ribu, alas tikar lima ribu”.

Saya yang kini tinggal di Metro, sejak menikah tahun 20012, adalah kelahiran Kepulauan Sapeken, yang sebagian orang menyebutnya Kepulauan Madura, meski orang-orang di pulau saya menolak disebut sebagai orang Madura, berjarak tempuh dengan transportasi laut Banyuwangi – Sapeken sekitar 7 jam. Jarak tempuh yang tidak terlalu jauh tersebut, menjadikan saya selalu memanfaatkan musim libur sekolah (yang waktu itu masa libur sekolah bisa lebih dari sebulan), untuk selalu ikut orang tua berlayar, selain ke Banyuwangi biasanya juga ke Buleleng, Singaraja Bali.

Ketika itu, Pantai Taman Hiburan Rakyat (THR), kini bernama Pantai Boom, dipenuhi deretan gudang-gudang ikan, tempat nelayan dari pulau kami berlabuh dan menambatkan perahu, membongkar muatan ikan asin atau sekedar singgah berbelanja setelah sebelumnya membongkar dan menjual muatan kopra di Panarukan atau di Pasuruan, halaman-halaman gudang tersebutlah yang belakangan saya tahu menjadi tempat prostitusi ilegal.

Mungkin, karena seringnya bolak-balik ke Banyuwangi, orang-orang dari pulau saya, akhirnya banyak yang menetap di Banyuwangi, ada karena alasan niaga, ada yang karena mempersuting gadis Banyuwangi. Umumnya, mereka berdiam dan membangun rumah tinggal di Kampung Mandar, (kampung yang diisi oleh Suku Mandar, sebagian suku yang menghuni kepulauan tempat saya lahir). Kampung Mandar ini adalah perkampungan yang paling dekat dengan Pantai Boom, tempat keluar masuknya perahu nelayan dari Kepulauan Sapeken.

Di Tahun 2005, saya berkunjung kembali ke Banyuwangi, bersama istri dan anak, bersilaturahim dengan kerabat yang tinggal di Kampung Mandar, ketika itu Banyuwangi masih saja kumuh, jalannya sempit, THR menjadi tempat pembuangan sampah dan menebar bau tak sedap, toko terbesar di tengah kota hanyalah Wijaya, di sekitar alun-alun Blambangan terdapat tempat kuliner, yang hanya ada menjelang sore hingga tengah malam, bermalam di hotel-hotel melati atau penginapan sekitar Taman Sritanjung, membuat saya akrab dengan suasana malam, termasuk akhirnya membuat saya mengerti makna “alas koran tiga ribu alas tikar lima ribu” yang diserukan dengan nada genit oleh para perempuan paruh baya di pelabuhan kala saya masih anak-anak dulu.

Sulit rasaya waktu itu untuk bisa menceritakan hal-hal baik, apalagi yang berbau kemajuan dan membanggakan tentang Banyuwangi kepada orang luar, bahkan sekedar untuk mencari oleh-oleh khas Banyuwangi pun susah. Berbeda dengan kondisi hari ini, ada banyak toko penyedia oleh-oleh khas Banyuwangi, mulai dari kopi dan makanan ringan hingga asesoris seperti pakaian khas Banyuwangi, ada banyak cerita yang membanggakan yang bisa disebar, meskipun Banyuwangi tetap menjadi salah satu Kabupaten yang tidak tergiur dengan godaan pendirian Mall, Supermarket dan Hipermart, satu-satunya supermarket yang saya temui, Juni 2016 yang lalu adalah Ramayana.
Tahun 2005 adalah tahun yang masih menyisakan traumatik. Bahkan bulan Juni yang lalu, ketika hendak berangkat ke Banyuwangi untuk kepentingan riset, beberapa kawan sempat berpesan agar berhati-hati di kota santet tersebut, dua orang kawan saya sempat berseloroh, apa yang mau dipelajari ke Banyuwangi, daerah yang terkenal dengan santetnya? Saat itu saya hanya menjawab dengan candaan, bahwa saya akan belajar ilmu santet.


Rahmatul Ummah (Pegiat Majelis Kamisan Metro)


Cerita Banyuwangi, Cerita Lampung Timur: Tanggapan Atas Budi Hutasuhut (Bagian 1/3)