Cerita Banyuwangi, Cerita Lampung Timur: Tanggapan Atas Budi Hutusahut (Bagian 3/3)



Tulisan ini adalah bagian terakhir dari tiga tulisan saya tentang cerita Banyuwangi dan Cerita lampung Timur, cerita tentang dua daerah yang memiliki kearifan, karakter dan budaya yang berbeda.

Lampung Timur Belajar

Alasan logis apa yang bisa dipakai untuk membandingkan Banyuwangi dengan Kabupaten Lampung Timur? Begitulah, kira-kira pertanyaan Budi Hutasuhut, seorang senior di dunia tukang tulis, yang kini mengabdi sebagai Dewan Riset Daerah (DRD) di Kabupaten Lampung Timur. Budi menulis Manusia Lampung Timur Tujuan Awal, Baru Kemudian Pariwisata, dalam dua seri tulisan di portal www.ayokelamtim.com, sebagai tanggapan atas tulisan saya Jalan Terjal Pariwisata Lampung Timur di portal yang sama.

Tulisan ini merupakan tanggapan balik atas tulisan Budi Hutasuhut, tetapi sebelumnya saya ingin menegaskan, bahwa saya sebenarnya tidak terlalu suka dengan istilah membandingkan, dalam konotasi memosisikan dua hal atau barang berbeda kemudian menentukan penilaian mana yang lebih bagus, mana yang biasa saja, atau bahkan buruk, kecuali saya bertindak sebagai juri yang mau tidak mau harus menetapkan pemenang dan yang kalah.

Istilah yang sering saya dan kawan-kawan gunakan dalam konteks penelitian pariwisata ini adalah “belajar”, belajar dari Banyuwangi. Mohon, maaf jika, ternyata dalam penyusunan laporan, menulis ternyata secara tidak konsisten saya pernah menulis membandingkan, saya pastikan itu khilaf dan akan merubah dan meralatnya.

Kenapa belajar? Belajar tidak selalu bermakna superior dan subordinat. Tempat belajar, tidak melulu menunjukkan posisi sempurna, meski dalam beberapa hal terkait dengan apa yang akan dipelajari, tempat belajar tersebut harus diakui memiliki lebih pengalaman dan pengetahuan, lantaran beberapa hal, seperti karena proses belajar, mengalami, mengetahui dan melakukan lebih dulu daripada orang yang baru mau belajar. Banyuwangi, adalah kabupaten yang tentu saja lebih awal menjadikan pariwisata sebagai program unggulan daerahnya daripada Lampung Timur.

Selain itu, menjadi pembelajar, menimba pengetahuan dari pengalaman-pengalaman daerah yang lebih maju tlebih dahulu, tentu bukanlah hal yang haram, apalagi proses belajar tersebut lewat proses riset yang dibiayai mandiri oleh kampus dan tak membebani APBD, hasilnya kemudian didedikasikan untuk pengembangan pariwisata di Kabupaten Lampung Timur, soal rekomendasi mau digunakan atau dianggap tidak relevan, tentu saja kewenangan penuh pemilik kebijakan.

Dan, soal proses belajar ke daerah lain sebenarnya juga bukan hal baru, secara legal justeru sebenarnya pemerintah daerah sudah rutin melakukan kunjungan ke daerah-daerah lain dalam rangka belajar, yang dikemas lewat “proyek” studi banding dan dibiayai APBD tentunya.

Kembali ke soal belajar tentang pengelolaan pariwisata ke Banyuwangi bukan berarti bermakna memindahkan kultur pariwisata Banyuwangi secara persis ke Lampung Timur, karena semua orang pasti juga memahami bahwa setiap daerah, memiliki karakter, kultur dan potensi yang berbeda dengan daerah yang lain. Tak usah jauh hendak membandingkan karakter dan kultur Lampung Timur dengan Banyuwangi, membandingkan Lampung Timur dan Pesisir Barat, sudahlah pasti jauh berbeda.

Lantas, kenapa harus jauh-jauh belajar ke Banyuwangi? Percepatan pembangunan kepariwisataan di Kabupaten Banyuwangi, dengan kompleksitas persoalannya, layak dibedah dan diurai. Amat naif, ketika sama sekali mengatakan bahwa tak ada satupun yang bisa dipelajari dari Kabupaten Banyuwangi untuk strategi pengembangan pariwisata di Kabupaten Lampung Timur.

Segitiga berlian atau triangle diamonds adalah branding pada tiga destinasi wisata unggulan di Banyuwangi, yakni Kawah Ijen, Pantai Plengkung yang berada di wilayah Taman Nasional Alas Purwo, dan Pantai Sukamade yang berada di wilayah Taman Nasional Merubetiri, ketiga destinasi wisata unggulan tersebut bukan milik pemerintah Kabupaten Banyuwangi, melainkan berada di bawah kewenangan pemerintah pusat, persis seperti Taman Nasional Way Kambas (TNWK) dan Taman Purbakala, sehingga pengelolaan destinasi wisata ini, Lampung Timur sesungguhnya bisa belajar dari Banyuwangi, tentang proses kewenangan pengelolaan dan kesepakatan-kesepakatan pengelolaan berikutnya.

Hal-hal lain, yang bisa dipelajari, selain dari starategi promosi Kabupaten Banyuwangi adalah strategi kepariwisataan terkait dengan konsolidasi kekayaan budaya lokal dan konsolidasi masyarakat pariwisata, termasuk dengan menyiapkan masyarakat agar ramah kepada wisatawan. Soal konsolidasi kebudayaan lokal ini menjadi keniscayaan di tengah memudarnya pemahaman banyak orang tentang budaya Lampung, banyak orang salah paham tentang Lampung, karena ulah segelintir orang yang sering dirujuk sebagai orang Lampung secara general, padahal mayoritas orang Lampung masih memegang teguh kebajikan.

Menurut saya, menjadi sangat ahistoris jika menganggap warga Lampung Timur tidak memiliki nilai-nilai kebudayaan yang bisa dikonsilidasikan untuk mendukung pengembangan kepariwisataan di Lampung Timur. Piil Pesinggiri yang dibangun di atas empat pilar, nemui nyimah, nengah nyepur, sakai sambayan dan bejuluk adek bukanlah filosofi hidup yang lahir di ruang hampa dan tanpa makna.

Berdasarkan penuturan dan pengakuan seorang keturunan Tionghoa, yang juga pengurus Paguyuban Sosial Masyarakat Tionghoa Indonesia (PSMTI), Tham Tjen Sek atau Toni Tambara yang mengaku pernah tinggal di Pekalongan, Lampung Timur, sempat penulis wawancarai pada 28 April 2016 yang lalu, bahwa sesungguhnya warga Lampung sangat terbuka menerima pendatang, bahkan mereka sempat bekerjasama dalam beberapa bidang, seperti pertukangan, pengobatan dan beladiri.






“Etnis China yang datang ke Indonesia, tidak semuanya datang sebagai pedagang, mereka ada yang menjadi tukang, ahli pengobatan dan mengajarkan beladiri, di bidang-bidang tersebut mereka diterima dan bisa bekerjasama dengan orang Lampung,” ungkap Toni Tambara.






Pernyataan tersebut senada dengan pengakuan Lie Pak Kian, yang kini telah berusia 83 tahun, tinggal di Jl. Sudirman, Kota Metro, dan pernah menjadi tukang bangunan Chung Hwa Sie Siauw atau Sekolah Cina di Kota Metro, tahun 1945 paska Jepang menyerah.






Bahkan terekam dengan baik dalam catatan sejarah sebagaimana ditulis oleh Ahmad Muzakky dalam Sebuah Kajian Etnografi Menemukenali Geneologi Kota Metor, bahwa lahirnya Kewedanan Metro sampai akhirnya menjadi Kota Metro secara definitif, tidak dapat dipisahkan dari sumbangsih penduduk pribumi Lampung. Adapun masyarakat adat yang memiliki sumbangsih dalam lahirnya Kota Metro adalah Buay Unyai dan Buay Nuba, menurut putusan rapat marga-marga di Sukadana pada tanggal 17 Mei 1937.






Lalu?






Tidak ada satupun suku, adat istiadat yang tidak mengajarkan kebajikan dan menganjurkan kemajuan. Konsolidasi kebudayaan lokal termasuk konsolidasi masyarakat sadar wisata adalah keniscayaan. Ada banyak kebudayaan-kebudayaan lokal yang bisa diangkat secara bergantian untuk tema festival. Festival yang bukan sekadar serimoni dan bermakna sebagai asesoris dan dekorasi kebudayaan, tetapi festival yang lebih substantif mengenalkan filosofis dan makna kebudayaan-kebudayaan tersebut, baik kepada warga lampung maupun kepada pengunjung (wisatawan).






Hal-hal sederhana seperti, cuwak mengan nyeruwit, tari-tari tradisional, bulangikhan, hingga sebambangan, mesukum (bumbang aji), ngakuk majau (sebumbangan), dan ngibal serbou (mupakat tuha), termasuk pentingnya kembali merekonstruksi ulang pemahaman tentang piil pesinggiri yang sering disalahpahami, penting dipertimbangkan menjadi tema-tema festival yang bisa dilaksanakan beberapa kali dalam setahun, dan dibuat semacam kalender festival seperti yang ada di Kabupaten Banyuwangi.






Sekali lagi, Lampung Timur memiliki kekayaan dan keragaman budaya yang perlu dan penting untuk dikonsolidasikan, bukan hanya kebudayaan Lampung ansich termasuk kebudayaan lain seperti Bali, Jawa, Ponorogo, Bugis, Batak dan lain-lain, merupakan satu kesatuan utuh menjadi kekayaan budaya Lampung Timur.






Jadi, biarkanlah rakyat Lampung Timur bekerja sesuai porsi dan kemampuannya sebagai rakyat dan pemerintah menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai pemangku kebijakan, dan berjalanlah beriringan dan saling mendukung, Itulah kolaborasi, itulah gotong-royong, sakai sambayan dan jayalah Lampung Timur.






Tabik.




Rahmatul Ummah (Pegiat Majelis Kamisan Metro)





Cerita Banyuwangi, Cerita Lampung Timur: Tanggapan Atas Budi Hutusahut (Bagian 3/3)