-->

Cerita Banyuwangi, Cerita Lampung Timur: Tanggapan Atas Budi Hutusahut (Bagian 2/3)



Pada bagian pertama saya menulis tentang kondisi Banyuwangi sebelum menjadi daerah yang dikenal atau terkenal sebagai daerah pariwisata. Tujuannya untuk memberikan gambaran yang utuh sebelum dan setelah menjadi daerah pariwisata. Penting menghadirkan pengetahuan tersebut sebagai langkah mencegah cara pikir latarikhy. Meskipun, sekali lagi lain lubuk lain ikannya, lain ladang lain belalang. Banyuwangi memiliki karakter, watak dan kebudayan yang sama sekali berbeda dengan watak dan kebudayaan daerah lain.

Banyuwangi Kini

Pertengahan Juni 2016 yang lalu, saya kembali mengunjungi Banyuwangi dalam rangka riset, belajar mengembangkan dan mengelola pariwisata, termasuk belajar setiap proses merubah image Banyuwangi yang pernah populer menjadi kota santet, sejak tragedi pembantaian sepanjang tahun 1998 – 2000. Image negatif yang bukan hanya membuat orang takut ke Banyuwangi, tetapi membuat orang takut berteman dan bersahabat dengan orang Banyuwangi.

Namun, kesan negatif dan menakutkan itu berhasil dirubah. Tahun 2010, Kabupaten Banyuwangi menegakkan pancang-bangun pariwisata sebagai salah satu prioritas unggulannya, selain UMKM, Pertanian dan tentu saja pelayanan pendidikan dan kesehatan. Dalam membangun kepariwisataan, sebagaimana ditulis oleh Anastasia Murdyastuti, dkk. (2013), pemerintah kabupaten Banyuwangi melakukan tiga konsolidari kepariwisataan. Pertama, perbaikan infrastruktur untuk akses menuju destinasi wisata unggulan; Kedua, konsolidasi kekayaan budaya lokal; Ketiga, konsolidasi masyarakat pariwisata, termasuk dengan menyiapkan masyarakat agar ramah kepada wisatawan.

Hasilnya, dalam lima tahun terakhir, kunjungan wisatawan nusantara melonjak 161 persen, dari sebelumnya 651.500 orang di tahun 2010, menjadi 1.701.230 orang pada tahun 2015, dan wisatawan mancanegara meningkat 210 persen dari kisaran 13.200 orang ditahun 2010, menjadi 41.000 pada akhir 2015. Bukan hanya itu, pariwisata juga ikut menggerakkan ekonomi warga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pendapatan per kapita Banyuwangi menurut melonjak 62 persen, dari 20,8 juta perkapita per tahun di tahun 2010, meningkat 12,8 juta di tahun 2014 menjadi 33,6 juta perkapita pertahun.

Prestasi Kabupaten Banyuwangi yang pernah mendapatkan penghargaan Travel Club Tourism Award (TCTA) 2012, sebagai kota/kabupaten, yang memiliki komitmen tinggi dalam mewujudkan tata kelola pengembangan kepariwisataan yang bermutu tersebut, tentu saja bukan hasil bimsalabim dan abrakadabra.

Tantangan sebagai daerah tertinggal dan tak pernah dilirik sebelumnya, dibandingkan Kabupaten Jember tetangganya yang lebih maju pembangunannya lebih awal, Kabupaten Banyuwangi juga mengalami tantangan terberat bersaing dengan Bali, yang memiliki tingkat pariwisata lebih maju dengan seluruh faktor yang menunjang, ditunjang jalur transportasi udara dari berbagai tempat, dalam dan luar negeri menuju Denpasar.

Bukan hanya itu, jalan sempit dan rusak serta lampu penerangan jalan yang tak memadai, menjadikan Kabupaten Banyuwangi juga sangat tidak ramah di malam hari. Menurut penuturan Priyo Sudjatmiko (22/6/2016), pria yang mengantar kami keliling beberapa tempat wisata, Banyuwangi hanya terlihat hidup hingga pukul 21.00, itu pun di pusat-pusat kota yang ramai, atau sekitar alun-alun Blambangan dan Taman Kota Sri Tanjung.

“Tetapi itu dulu, sejak tahun 2010, jalan-jalan dilebarkan dan diperbaiki, bahkan hingga kini jalan-jalan desa selain sudah bagus juga telah dilengkapi penerangan,” jelas Priyo.

Lain cerita Priyo, lain pula cerita Ali Mabrur, seorang pemuda yang menjadi koordinator pengelola Pantai Pulau Merah, milik Perhutani, bahwa dulunya Pantai Pulau Merah merupakan tempat yang terkenal tidak aman karena banyaknya tukang palak yang berasal dari warga sekitar, bukan hanya di sekitar pantai tetapi juga terjadi di sepanjang jalan menuju pantai.

Banyuwangi bangkit, bukan hanya membenahi infrastruktur daerah seperti melebarkan dan memperbaiki jalan, memasang lampu penerangan jalan hingga desa dan memfasilitasi desa dengan internet hingga 1400 titik, pemerintah Kabupaten Banyuwangi juga pada 29 Desember 2010 meresmikan Bandara Blimbingsari dengan landasan pacu awal 1400 meter, termasuk juga menata, mempercantik dan membuat nyaman Stasisun dan Terminal Bus.

Kini Banyuwangi memiliki lebih dari 19 destinasi wisata yang terus menerus dipromosikan lewat berbagai media, termasuk memanfaatan teknologi dengan membuat web khusus parawisata www.banyuwangitourism.com milik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, yang kemudian menulari warga untuk ikut terlibat dalam promosi dengan membuat www.banyuwangibagus.com, banyuwangibahagia.com, banyuwangicantik.tumblr.com, dan beberapa web dan blog lain, baik milik pribadi maupun milik agen-agen pariwisata.

Promosi juga dilakukan lewat berbagai event, termasuk dalam 53 festival yang sengaja diadakan untuk mengenalkan budaya lokal Banyuwangi dan daerah wisatanya.

Hal ini menunjukkan, bahwa pembangunan dan pengembangan pariwisata di Kabupaten Banyuwangi bukanlah cita-cita yang diiktiarkan santai, melainkan usaha yang sungguh-sungguh dan tidak setengah hati.

Rahmatul Ummah (Pegiat Majelis Kamisan Metro)

Cerita Banyuwangi, Cerita Lampung Timur: Tanggapan Atas Budi Hutusahut (Bagian 2/3)