Jalan Terjal Pariwisata Lampung Timur



Ketika berkunjung ke Banyuwangi beberapa bulan yang lalu, pertama kali tiba di Bumi Blambangan, didatangi beberapa orang tidak dikenal yang menawarkan jasa angkutan. Parno? Tentu saja, sebagai orang yang sering keluar masuk terminal, bertemu banyak orang dan beberapa kali ditipu calo soal harga, menjadikanku setiap kali masuk terminal, stasiun atau bahkan bandar udara sekalipun, untuk selalu waspada, membandingkan harga sekaligus memperhatikan setiap orang menawarkan jasa dari ujung rambut hingga ujung kakinya, dengan tatapan penuh curiga.

Hal tersebut berlaku terhadap beberapa orang yang menawarkan jasa angkutan kepada ketika tiba di Banyuwangi, memastikan harga dengan bertanya ke warung kopi, sehingga akhirnya yakin dan memutuskan untuk menggunakan jasa salah seorang dari beberapa orang yang menawarkan jasa tersebut. Namun, kewaspadaan dan kecurigaan tersebut berlanjut hingga di perjalanan menuju penginapan, mengecek peta lokasi tujuan dengan google maps, memastikan tidak sedang diputer-puterin oleh si sopir, sehingga terkesan jauh dan akhirnya membayar lebih mahal. Ternyata, citra Banyuwangi yang positif, ramah dan aman, dan telah tersebar luas tidak secara otomatis membuat percaya pengunjung sepertiku.

Faktor aman dan nyaman menjadi kata kunci yang sangat penting dan utama. Soal infrastruktur jalan dan fasilitas-fasilitas lain, seperti bangunan yang bagus dan mewah, meski penting tetapi tidak terlalu menjadi faktor utama yang mempengaruhi minat wisatawan, karena beberapa wisatawan justeru jenuh dengan fasilitas-fasilitas mewah perkotaan seperti hotel, kolam renang, dan hal-hal lain yang dengan mudah mereka temui di kota, dan mereka merindukan suasa desa yang alami, asri dan hijau, mulai dari pemandangan sawah yang becek berlumpur, jalan-jalan tanah, dan ruang-ruang udara yang bersih, tanpa cemar polusi karena asap kendaraan bermotor.

Pariwisata Lampung Timur, soal utamanya sebenarnya bukan semata soal infrastruktur jalan, tapi juga soal fakta lapangan, Lampung Timur tidak aman dan nyaman sebagai daerah tujuan wisata. Kesan setiap orang yang pernah datang ke Lampung Timur, diganggu, merasa tak aman dan nyaman, akan menyebarkan informasi tersebut dari mulut ke mulut, sehingga orang menjadi takut untuk datang ke Lampung Timur.

Tugas Pemerintah

Tidak bermaksud membangun dikotomis, antara tugas pemerintah dan tugas warga, karena memang semestinya warga dan pemerintah bersinergi dan berkolaborasi, termasuk pemangku kepentingan yang lain, untuk membangun dan mengembangkan daerah, termasuk mengembangkan pariwisata yang menjadi sektor unggulan Kabupaten Lampung Timur.

Namun, sinergi dan kolaborasi bukan berarti mengerjakan satu pekerjaan secara bersama, dan menangguhkan pekerjaan yang lain, untuk dikerjakan kemudian setelah pekerjaan pertama selesai, bersinergi dan kolaborasi atau bisa dimaknai dengan gotong-royong adalah mengerjakan banyak hal secara bersama untuk tujuan yang sama, ibarat hendak membangun rumah, ada yang mengaduk semen, ada yang menyusun bata dan ada pula yang membuat gambar dan menukangi bagian-bagian yang lain. Kolaborasi membangun rumah adalah bersama-sama mengerjakan bagian-bagian penting sesuai kemampuan masing-masing, untuk tujuan yang sama.

Bangunan pariwisata, bukan hanya soal membangun tempat wisata dan memperbaiki jalan menuju lokasi wisata. Pariwisata juga adalah soal kebiasaan dan tradisi warga, yang bisa membentuk persepsi wisatawan, soal mental dan kesadaran, warga sadar wisata. Dan, hal yang paling rumit untuk diurai adalah soal mental, cara pikir dan karakter warga, karena sehebat apapun pemerintah, tetap tidak memiliki aturan dan kemampuan untuk bisa mengintervensi dan mendikte cara pikir apalagi sampai bisa memaksa warga untuk merubah mental dan karakternya.

Untuk itu, pemerintah Kabupaten Lampung Timur sudah semestinya lebih fokus kepada hal-hal yang menjadi wilayah-wilayah teknis kerjanya, seperti kebijakan. Agenda-agenda pembangunan yang menjadi prioritas harus “bunyi” di level teknis kebijakan, mulai dari rencana, anggaran hingga realisasi. Karena, setiap kebijakan yang bagus dan indah secara konsep, hanya akan menjadi bacaan atau dongeng pengantar tidur, yang pencapaian tertingginya hanyalah mimpi terindah.

Ketika, pariwisata menjadi agenda unggulan Kabupaten Lampung Timur sudah sepatutnya pemerintah tidak canggung dan setengah hati untuk membuat kebijakan, menglokasikan anggaran, dan bekerja untuk pengembangan pariwisata. Hal sama yang pernah dilakukan oleh Kabupaten Banyuwangi, dengan menganggarkan 13 milyar di tahun pertama untuk perbaikan infrastruktur jalan menuju tiga lokasi wisata yang dikenal dengan segitiga berlian (triangle diamond), termasuk juga melakukan promosi dengan baik dan maksimal secara terus menerus lewat berbagai event (festival, gathering, dll) dan media (digital dan cetak, termasuk menyiapkan paket promosi dalam bentuk video, pamflet, brosur, peta wisata, dll).

Membangun infrastrukur menjadi keniscayaan, promosi juga pekerjaan wajib yang harus segera dilakukan, minimal di tahun pertama anggaran. Datang dan belajar ke daerah-daerah yang pariwisatanya maju, dengan jumlah pengunjung terbanyak, bukan dalam rangka jalan-jalan dan menghabiskan anggaran, tapi dalam rangka promosi pariwisata di Lampung Timur, susun agenda meet and gathering bersama pelaku wisata daerah tersebut, tawarkan dan undang mereka datang ke Lampung Timur, melihat langsung daerah wisata Lampung Timur, maka mereka akan menjadi mitra yang baik untuk berpromosi dan mengajaak wisatawan datang ke Lampung Timur.

Masing-masing SKPD, sudah saatnya juga saling support, sehingga untuk setiap kunjungan kerja bertemu dengan relasi, kawan atau antar intansi di daerah lain, terlibat menjadi publik relation dan mempromosikan obyek wisata di Lampung Timur, meski pariwisata bukan menjadi bagian satuan kerjanya.

Mas Darwis Sebuah Keharusan
Masyarakat sadar wisata (Mas Darwis), menjadi bagian penting dan niscaya, karena kinerja pemerintah sepertinya akan sia-sia, tanpa dukungan riil masyarakat Lampung Timur untuk merubah cara pandang orang luar terhadap Lampung Timur. Merubah dan membentuk mental warga, meski memerlukan stimulus dari orang lain, tetapi yang menjadi penentu dan faktor utama membentuk dan merubah perilaku itu adalah warga sendiri.

Teringat, bagaimana kesan angker dan mistisnya Kabupaten Banyuwangi, berubah dalam waktu tak lama, menjadi daerah yang sangat berkesan, pelayanan yang baik, mulai dari angkutan yang mengantar ke penginapan, bertemu warga di ruang-ruang publik, masuk tempat wisata, bahkan hingga pulang. “Setiap yang datang pasti membawa rezeki dan berkah,” begitu keyakinan warga Banyuwangi. Menitipkan kartu nama, nomer kontak dan alamat beberapa home stay, sembari berpesan, “siapa tahu, suatu waktu bapak ingin kembali atau ada kawannya yang hendak ke Banyuwangi,” ramah dan tentu saja mengesankan.

Jalan mulus dan promosi heboh, sepertinya akan menjadi pekerjaan yang tidak akan terlalu berpengaruh untuk menarik minat wisatawan untuk datang ke Lampung Timur, jika para wisatawan yang datang kemudian disuguhi dengan ketidaknyamanan dan rasa tak aman. Bahkan, bisa jadi mereka yang datang berbalik menjadi penyebar informasi yang efektif perihal ketidaknyamanan dan ketidakamanan wisata di Lampung Timur, sehingga orang semakin enggan dan takut untuk datang ke Lampung Timur.

Maka di titik inilah, kolaborasi, sinergi dan gotong-royong itu dimaknai sebagai sesuatu yang urgen, penting dan mendesak. Sebuah kesadaran bersama, untuk tidak sibuk saling menyalahkan dan melemahkan, tetapi berusaha untuk saling mengisi peluang, berebut kerja terbaik sesuai porsi dan kompetensi masing-masing pihak.

Para pelaku usaha wisata juga wajib sadar, jika semuanya lancar, jalan mulus warga mendukung, usahanya menjadi untung, sehingga tak pelit berinvestasi, pemerintah yang bertugas melayani dan mengabdikan dirinya juga untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, tugasnya menjadi lebih ringan dan bisa jadi pendapatan asli daerahnya meningkat sehingga tak perlu ragu menata infrastruktur dan berpromosi, masyarakat juga bisa menikmati pekerjaan dengan nyaman, tanpa rasa takut dan was-was. Semua sejahtera, semua senang. Sulit, tetapi bukan tak mungkin.

Namun, jika semua pemangku kepentingan ini gagal bersinergi dan berkolaborasi, mimpi tentang pariwisata Lampung Timur yang unggul dan ramai, tetap akan menemui jalan terjal dan buntu.

Wallahu a’lam Bishshowab


Rahmatul Ummah (Pegiat Majelis Kamisan Metro)

Jalan Terjal Pariwisata Lampung Timur