-->

Belajar Dari Desa Wisata Osing Kemiren Banyuwangi




Begitu memasuki perbatasan wilayah Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi, tak tampak ada ada yang istimewa, semua nyaris sama dengan desa-desa lain di Kabupaten Banyuwangi, jalan-jalan desa yang beraspal, jajaran pohon dan tiang-tiang lampu jalan yang tampak masih seperti baru tertata rapi sepanjang jalan.

Di gerbang masuk terpampang tulisan besar Selamat Datang di Desa Wisata Osing Kemiren, adalah petunjuk bagi pengunjung bahwa mereka telah memasuki wilayah desa wisata. Sekilas memang rumah-rumah yang berjejer berhimpitan tampak sama, tapi jika diperhatikan dengan seksama dan teliti, terdapat perbedaan pada atap rumah yang melambangkan status pemiliknya.

Menurut Priyo Sudjatmiko (33), sopir yang mengantar kami keliling Desa Kemirin bahwa rumah dengan atap tikel balung melambangkan bahwa pemiliknya adalah orang kaya, rumah yang beratap tikel baresan atau beratap tiga melambangkan pemiliknya sudah mapan, tetapi berada satu tingkat di bawah rumah beratap tikel balung, sedangkan rumah beratap tikel crocogan menandakan pemiliknya adalah keluarga muda atau belum mapan.

Di depan masing-masing rumah atau di halaman sampingnya, rata-rata juga terdapat lesung (alat untuk penumbuk padi) dan gudang untuk penyimpanan sementara hasil panen, di beberapa sudut jalan terdapat bangunan tinggi seperti menara, gubuk beratap ilalang yang dibangun di atas kaki-kaki yang terbuat dari bambu, masyarakat sekitar menyebutnya cangkruk yang berfungsi untuk mengamati keadaan sekeliling desa.

“Setelah ditetapkan menjadi Desa Wisata oleh Bupati Purnomo Sidiq tahun 1995 dibangun anjungan yang terletak di utara desa, anjungan tersebut difasilitasi dengan kolam renang, tempat bermain dan miniatur rumah Suku Osing (Using),” jelas Priyo, Rabu (22/6/2016) sambil memarkirkan mobil di halaman anjungan.

Abdurrahman, lelaki paruhbaya yang kami temui di halaman anjungan tersebut menuturkan bahwa sebenarnya dari tahun 1995 selalu ada pengunjung yang datang ke Desa Krimen, baik sebagai wisatawan, study tour, maupun untuk kepentingan penelitian, tetapi baru mulai terkenal dan lumayan ramai lima tahun terakhir, setelah ada perbaikan infrastruktur jalan dan promosi gencar dilakukan oleh pemerintah daerah.

Selain dari bentuk rumah, Desa Wisata Osing Kemiren juga melestarikan tradisi leluhurnya, seperti tradisi tumpeng sewu, ngopi sewu atau tradisi pecel itik.

“Budaya tradisional itu sebenarnya masih terawat dengan baik secara turun temurun, hanya dilakukan sendiri-sendiri, seperti tumpeng sewu dan ngopi sewu, kemudian pemerintah menyelnggarakannya secara massal dengan melibatkan seluruh warga desa, yang biasanya diselenggarakan setelah hari raya, Idul Fitri dan ldul Adha,” tutur Aunur Rofiq, staf Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banyuwangi.

Senada dengan Aunur Rofiq, Syamsul Hadi (38) warga Suku Osing, Kemiren juga mengatakan bahwa sebelumnya warga memang telah menjalankan ritual dan tradisi itu setiap tahun, biasanya mereka menyediakan makanan dalam bentuk tumpeng di teras-teras rumahnya.

“Sebelumnya kita menyajikan hidangan, kopi dan tumpeng di teras rumah, namun sejak kepemimpinan Pak Anas, warga menyajikannya sepanjang jalan di depan rumahnya, jadi jalan-jalan ditutup untuk acara tumpeng sewu dan ngopi sewu, bagi pengunjung atau pendatang bisa ikut dan bebas makan-minum sepuasnya,” jelas Hadi, Rabu (22/6/2016).

Selain itu, Desa Wisata Osing memiliki kekayaan tradisi yang bisa menjadi obyek wisata desa, seperti Angklung Paglak yang dimainkan oleh 4 orang laki-laki, yang terdiri dari 2 pemain angklung dan 2 pemukul gendang, Tari Barong Kemiren yang disuguhkan untuk menyambut tamu, Othek atau Musik Lesung dimainkanlah oleh perempuan-perempuan tua dengan cara memukul-mukul lesung secara bergantian, sehingga menimbulkan bunyi yang indah, perempuan-perempuan tua tersebut disebut dengan Gedhogan, ada juga Tarian Gandrung, kali ini dimainkan oleh gadis-gadis cantik.

Banyaknya tradsi leluhur di Desa Kemiren tersebut menjadikan Desa Kemiren ditetapkan sebagai desa cagar budaya dan desa wisata, dan tak ketinggalan yang sangat berkesan juga adalah kopi khas suku Oseng.

Kejelian dan kecerdikan kepala daerah yang menangkap kekayaan tradisi dan budaya daerah sebagai potensi wisata, menjadikan Desa Kemiren merasakan dampaknya, selain membaiknya dan kesejahteraan warga, program Desa Wisata juga berdampak terhadap menurunnya angka kriminalitas.

“Dulu sebelum ramai, jalan dan penerangannya belum ada, masyarakat sini tidak berani keluar rumah malam,” ujar Priyo sembari mengajak kami melanjutkan perjalanan ke tujuan wisata yang lain di Kabupaten Banyuwangi.

Penulis : Rahmatul Ummah


Belajar Dari Desa Wisata Osing Kemiren Banyuwangi