-->

Sapeken, Surga yang Tercecer di Laut




Keindahan Kepulauan Sapeken, Sumenep dan isi lautnya tak kalah dengan Bunaken maupun pulau-pulau wisata di Laut Pasifik. Tapi karena potensi wisata itu tak pernah dikelola jadilah Sapeken yang tetap miskin.

Sapeken, sebuah kecamatan kepulauan di kabupaten Sumenep. Jaraknya 115 mil laut dari Kota Sumenep. Bila naik kapal laut bisa ditempuh 12 jam. Luasnya 201,8 km2 terdiri atas pulau-pulau kecil 53 buah. Hanya 21 yang berpenghuni. Lainnya kosong, bahkan tanpa nama.

Penduduknya hanya 32.000 orang diam dalam sembilan desa. Warga Sapeken tidak menggunakan bahasa Madura melainkan bahasa Bajo atau Mandar, salah satu bahasa dari Sulawesi.

Menurut H. Aminullah, sesepuh masyarakat Sapeken, ketika terjadi perang besar di antara Raja Bone Sulawesi dengan Belanda sebagian rakyatnya menyingkir ke pulau itu ketika kalah perang.

Nama orang Bone yang popular adalah Kraeng Galesung. Diceritakan, saat berlayar mencari perlindungan dihadang badai. Perahu akhirnya pecah hingga pada hari ketujuh menemukan pulau yang kemudian diberi nama Sapeken artinya sepekan. Pulau itu lalu menjadi tempat orang Bone bermukim. Kraeng Galesung pun berteman dengan Trunojoyo berperang dengan Belanda.

Rombongan orang Bone lainnya ada yang terdampar di wilayah Kepulauan Masalembu dan Kangean. Ternyata mereka yang terdampar di Pulau Sapeken, lebih beruntung. Karena daerah ini lautnya kaya dengan ribuan ikan laut.

Menurut Badan Koordinasi Survei Perairan Laut Nasional (Bakorsurtanal ) Jakarta, hasil survei 2002 menyebutkan, Sapeken memiliki arus yang berkarakter khusus, sehingga disukai oleh binatang laut untuk mencari makan dan berkembang biak. Salah satunya adalah ikan di laut dalam.

Dengan kedalaman laut rata-rata 300 meter, menyebabkan proses pengembangbiakan di laut Sapeken lebih cepat dibandingkan laut lainnya. Di pulau ini masih banyak ditemukan ikan napoleon, udang lobster kuning, kerapu macan, yang mudah ditangkap oleh warga setempat.

Padahal ikan tersebut di perairan mana pun sudah sangat langka karena selalu diburu nelayan. Harganya dalam keadaan hidup Rp 350 ribu per kilo. Namun kendati warga Sapeken tiap harinya menangkapinya hingga saat ini ikan kesukaan orang Hongkong dan Singapura itu masih melimpah.

Sekali melaut, nelayan bisa mendapatkan satu ton. Jumlah ini terlalu besar untuk dipasarkan di daerah Sapeken sehingga nelayan cenderung mengeringkan menjadi ikan asin kemudian dijual ke Bali atau Pasuruan.

Beningnya laut Sapeken, tak ubahnya mempertontonkan akuarium laut raksasa. Dari atas perahu dapat disaksikan taman laut nan indah dengan ratusan jenis ikan dengan segala warnanya.

Tak terbayangkan kecamatan yang hanya berpenduduk 32 ribu jiwa menyimpan keindahan yang tiada taranya. Jika di daerah lain menangkap udang lobster dengan susah payah, di pulau Bakau, satu gugusan pulau Sapeken, hanya dengan serok, jaring tangan sudah dapat menangkap lobster sebesar lengan orang dewasa. Demikian pula dengan ikan kerapu macan.

Mutiara Alam

Di perairan laut ini, mutiara laut dalam bentuk asli masih mudah ditemukan. Penyelam asal Sapeken tiap hari memburu tanpa menggunakan alat bantu pernafasan atau kacamata air.

Mereka mampu berjam-jam berada di kedalaman air walaupun hiu sering berkelebat. Mutiara mudah dipungut dari laut dalam aneka warna. Ada warna merah jambu, ungu, putih, kuning gading, cokelat dan jingga. Dari tangan nelayan dalam bentuk untaian kalung, mereka menjualnya dengan harga berkisar Rp 30 ribu sampai Rp 150 ribu. Mutiara merah jambu, ungu dan jingga ukuran besar harganya paling mahal.

Kesuburan laut dan kekayaan alam Sapeken, ternyata cepat ditangkap oleh ‘saudara tua’ dari Jepang. Mereka datang dengan membawa bendera PT Maxima Mutiara pada tahun 80an mengembangkan budidaya mutiara Sapeken lebih besar dan berkilau.

Mutiara asal Sapeken jarang ditemui di Indonesia karena dipasarkan ke negara Eropa, Timur Tengah dan Amerika.

Sejumlah nelayan asal Sapeken mencoba meniru langkah PT Maxima Mutiara, namun dalam beberapa kali upaya budidaya, nelayan ternyata gagal. Yang paling disayangkan, upaya untuk mendapatkan ilmu budidaya dari PT Maxima Mutiara ternyata tidak pernah direspon hingga kini.

”Kami sudah berusaha mendapatkan petunjuk teknis seperti yang dilakukan Maxima, ternyata tak pernah berhasil, untuk masuk ke lokasi tidak mudah, mereka sangat ketat menjaganya,”ujar H. Ali, Kades Pagerungan Kecil, tempat Maxima Mutiara berkantor. (*)


Oleh: Jakfar Farouk Abdillah


Sapeken, Surga yang Tercecer di Laut