Wisata Bahari Kelas Dunia Di Pulau Sitabok





Pulau Sitabok pernah membuat gempar Indonesia, karena sempat diisukan akan dijual ke warga negara asing dan menjadi viral, meskipun tidak semua yang memperbincangkan Pulau Sitabok paham dan mengerti berada di mana atau bahkan masuk wilayah provinsi mana pulau tersebut. Pulau mungil ini memang sempat menarik beberapa wisatawan asing sehingga menginginkannya, karena memiliki potensi wisata bahari yang menakjubkan. Keindahan pulau ini masih sangat natural. Pemandangan pantai dan laut tetap memukau meskipun tidak ada pembangunan sama sekali.

Potensi keindahan alam di pulau ini seperti hamparan pasir putih yang bersih, terumbu karang di bawah laut dilengkapi dengan palung laut atau tebing terjal yang ada di laut benar-benar melengkapi keindahannya, saking memukaunya ada banyak orang yang merasa rugi jika datang ke Kepulauan Sapeken, tetapu tidak menyempatkan diri untuk menikmati keindahan Pulau Sitabok.

Pulau mungil yang hanya dihuni oleh 40 Kepala Keluarga (KK) dan konon berawal dari satu keluarga saja yang menempati pulau ini, terdapat di Kecamatan Sapeken, membutuhkan waktu 10 menit dari daratan Desa Sapeken dengan menggunakan jasa transportasi perahu tradisional. Pulau Sitabok ini merupakan salah satu pulau andalan untuk dijadikan objek wisata bahari di daerah kepulauan khususnya di Kecamatan Sapeken.

Dari saking indahnya Pulau Sitabok, tidak hanya menyedot perhatian wisatawan lokal yang berlibur, namun juga menarik perhatian masyarakat luar bahkan mancanegara untuk berlibur menikmati keindahan alamnya, sudah berkali-kali kapal pesiar yang berlayar, mampir mengunjungi pulau tersebut, hanya untuk menikmati pemandangan pantai yang penuh dengan pasir putih yang bersih dan indah.

Keindahan Pulau Sitabok yang tersiar dari para wisatawan yang pernah singgah, maupun dari internet yang sengaja disebarkan oleh mereka yang merasa terkesan dengan keindahan pulau ini, dengan menyebutnya sebagai Pulau Biru (nama pemberian wisatawan untuk memberikan gambaran laut biru yang mengelilingi pulau dengan luas keliling tak lebih dari 1 km ini), mendorong beberapa orang berkeinginan untuk membelinya.

Masyarakat Pulau Sitabok selain menggunakan bahasa lokal, identitas lokal lain yang sangat menarik adalah mainan tradisional anak-anak Pulau Sitabok. Apabila kebanyakan anak-anak di daerah perkotaan memelihara anjing, kucing atau hewan lain yang lazim diperlihara. Anak-anak di Pulau Sitabok justru memelihara kepiting sebagai teman mereka. Kepiting-kepiting tersebut bahkan diikat dengan seutas tali agar kepiting peliharaan mereka tidak melarikan diri sekaligus klaim atas kepemilikan kepiting tersebut sebagai milik mereka.

Setelah dicermati ternyata anak-anak Pulau Sitabok cukup cerdas, mereka tidak hanya mengikat satu kepiting dengan tali tersebut, tapi dua kepiting, masing-masing di tiap ujung tali. Sungguh menggelikan ketika melihat dua kepiting tersebut dalam usaha mereka melepaskan diri yang sia-sia sebab ketika salah satu kepiting berjalan ke arah kanan, kepiting yang berada di ujung lain justru mengambil jalan ke arah kiri. Alhasil dua kepiting itu seakan berjalan di tempat.

Pulau Sitabok boleh dibilang hanya secuil dari untaian Zamrud Katulistiwa Indonesia namun keaslian masyarakat beserta budayanya menjadi pemanis kecantikan Indonesia. Seakan dua sisi mata koin yang berbeda, di satu sisi kita layak merasa bangga karena Pulau Sitabok dilirik oleh investor, bahkan warga negara asing untuk dikembangkan menjadi salah satu tujuan wisata sebab hal itu berarti Sitabok diakui sebagai lokasi yang berpotensi menjadi wisata bahari dunia. Namun di sisi lain, sangat ironis apabila keaslian Sitabok justru terancam hilang ketika Sitabok resmi menjadi resort pemuas wisatawan asing.

Ketika Pulau Sitabok di kemudian hari menjadi ikon wisata bagi dunia luar, kita harus tetap memastikan bahwa Pulau tersebut tetap milik kita.







Wisata Bahari Kelas Dunia Di Pulau Sitabok