-->

Azizah; Antara Budaya (Etnis) Bajo dan Panggung Politik


Hal pertama yang ingin ditegaskan dalam tulisan ini adalah bahwa saya tidak akan masuk pada wilayah pro-kontra yang menyertai keberlangsungan acara Festival Adat Bajo yang belakangan menjadi ramai di media sosial. Biarlah itu menjadi urusan mereka. Karena tentu saja setiap orang punya persepsi dan sudut pandang yang berbeda, dari sudut mana kemudian ia melihat dan menilai pelaksanaan acara ini. Tulisan ini sekali lagi hanya akan konsen pada apa yang menjadi fokus perhatian saya diseputar topik politik dan etnis. Satu topik yang mengajak saya kembali bernostalgia di saat penghujung tahun 2012, saya sibuk merampungkan Skripsi dengan judul "Politik Etnis Masyarakat Bajo Sapeken"

Dalam Skripsi yang memiliki keterkaitan dengan tulisan ini, saya sedikit akan mengulas bagaimana hubungan antara politik dan etnis dalam konteks partisipasi politik. Dan momentumnya tepat, saat jelang pelaksanaan acara budaya yang digagas oleh beberapa anak muda potensial ini terindikasi bercampur dengan persoalan politik.

Dalam teori, politik etnis sering digunakan untuk menggerakkan kesadaran masyarakat etnis tertentu sebagai alat propaganda dan perjuangan politik dalam upaya mengangkat harkat dan martabat etnisnya. Tentu saja hal ini biasa dilakukan etnis tertentu atau dalam etnis tertentu, yang kebetulan berada dalam satu kondisi lemah atau terpinggirkan (marginal) secara politik dan ekonomi. Maka, dalam hal ini politik etnis menemukan momentumnya. Dan ini sah secara politik maupun etika politik.
Warga di Dermaga/Pelabuhan bertumpuk menunggu kedatangan Azizah Meumere.
Lantas bagaimana mana dengan perayaan Festival suku Bajo Sapeken yang belakangan diketahui ada kehadiran sosok "tokoh politik" yang begitu kuat mendominasi acara ini? Dalam konteks ini tentu saja berbeda dari sedikit ulasan teori politik etnis yang dikemukakan diatas. Jika politik etnis digunakan untuk memberdayakan kekuatan etnis dalam upaya melawan kekuatan politik tiran, maka dalam konteks Pawai Azizah sebagai bintang tamu hari Selasa, 10 Oktober 2017 kemarin yang konon mewakili ikon budaya Bajo terselip sisipan politik.

Karena itu sangat disayangkan, anak-anak muda sebagai penggagas acara ini tidak mampu memisahkan dua hal sangat berbeda dari acara ini, yaitu budaya dan politik. Festival budaya Bajo Sapeken harusnya berdiri tegak secara mandiri dan independen tanpa ada bayang-bayang politik didalamnya.

Akhirnya, di satu sisi menjadi cacatlah acara yang sedemikian besar ini. Sementara di sisi lain, sukses menjadi panggung dan kemenangan politik bagi seorang Joni Junaidi, politisi muda yang akan tampil bertarung pada perhelatan Pilkades tahun mendatang.

Wallahu 'a'lam.


Firdausi Emping, Warga Sapeken


Azizah; Antara Budaya (Etnis) Bajo dan Panggung Politik