Menyendiri dan Hiduplah dalam Kesendirian


Suatu pagi, sekitar bulan Oktober tahun 1989, Emak tersedu karena kenakalanku.

"Jika kamu merasa bisa hidup sendiri, maka hiduplah sendiri dan lakukanlah sendiri apa yang menjadi kemauanmu. Tak usah menyalahkan siapapun, jika ternyata kamu gagal."

Umurku kala itu baru 12 tahun. Aku tak terlalu paham apa yang Emak maksud.
Kala itu, di usia yang masih bau kencur itu, aku sudah berani mengancam akan pergi dari rumah, jika mauku tak dituruti.

Dan, tatkala Emak tak lagi melarang, barangkali karena terlalu seringku mengancam, aku menjadi lunglai, tersudut di pojok rumah, sunyi dan hanya bisa menangis.

Emak mendatangi dan mengusap rambutku.

"Nak, tak satupun kehidupan di dunia ini bisa dijalani sendiri. Setiap orang memerlukan orang lain, siapapun dan apapun posisi orang itu, mereka semua penting. Jangan pernah berpikir gemuruh ombak yang berdebur di pantai, angin kencang yang mencipta keributan, atau suara merdu burung tekukur di belakang rumah, adalah kerja sendiri. Selalu ada sentuhan dan gesekan dengan kehidupan yang lain. Jikalah gesekan itu seimbang, maka pastilah melahirkan harmoni, pun sebaliknya jika ia tak seimbang, tentulah akan melahirkan keriuhan dan ketaktenangan."

"Jika hatimu sedih, pastilah ada yang tak seimbang, entah itu sikap atau juga ucapmu!"

Aku tak mengerti, aku sesunggukan di pangkuan Emak, sebelum akhirnya terpejam.

Menyendiri dan Hiduplah dalam Kesendirian