Anak Laut (2)


Anak Laut (2)


Terik tengah hari membakar kulit. Iyus (14) dan Jun (13) tidur sangat nyenyak di rumah Akob, tuknya (datuk, kakek). Saudara sepupu itu tidur saling berhadapan. Lututnya ditekuk sehingga pantat keduanya menungging, saling beradu, terlihat lucu. Iyus dan Jun yang terlihat sangat letih tidak bisa meluruskan kaki. Ruang depan rumah Akob penuh dengan meja belajar. Selain panas, ruangan itu sesak dan riuh oleh suara Jutai (14), Runi (9), Ganyah (11), Win (9), May (10), dan Da (6). Murid-murid Kelas 1 SDN 004 Senayang itu tengah menghafalkan huruf abjad A sampai Z.

Padahal Iyus sudah pamit tidak ikut belajar. Kata anak Ta dan Rani itu, Mamok (16) dan Win adik Iyus mengajak nyandit[i]. Kegiatan mencari nos atau sejenis cumi-cumi yang hidup di karang dengan menggunakan tali pancing dan umpan berbentuk udang ini menjadi keseharian anak laut.

Win, Mamok, Iyus, Jun, Jutai, Runi, May, dan Da merupakan anak Suku Laut kelompok Akob yang mendiami Pulau Air Bingkai. Secara administratif, kelompok yang menjadi bagian dari Kelompok Suku Laut Kampung Baru ini masuk RT 7 RW 3, Desa Temiang, Kecamatan Senayang, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.

“Aku sama Win, Mamok sama Jun. Nanti nyandit di belakang –Pulau- Tajur Biru sampai Selat Panjang,” ujar Iyus sebelum akhirnya tertidur. Nyandit, seperti halnya nyulu[ii] biasanya dilakukan berpasangan. Seorang menjadi tekong atau pengemudi sampan seraya memegang candit, seorang lagi duduk menyandit. Saat laut teduh, hampir setiap hari sepulang sekolah anak laut pergi nyandit.
Anak Laut (2)
Menyiapkan lampu untuk nyulu

Iyus dan Jun akhirnya takluk oleh rasa kantuk. Posisi tidur yang tidak nyaman serta riuh suara tidak dipedulikan lagi. Jun tidur dengan ‘kostum’ siap berangkat, mengenakan jaket dan topi sekolah merah putihnya. Sejak semalam, mereka yang pada tahun ajaran baru naik ke kelas 2 ini ikut masing-masing bapaknya pergi nyulu.

Kerapkali, mereka juga berangkat pada dini hari. Pukul enam pagi, sampan yang dikayuh keduanya baru sampai rumah. 10 menit kemudian, keduanya telah rapi dengan seragam sekolah. Jika laut teduh, dalam 24 jam anak laut hanya tidur kurang dari lima jam setiap harinya. Setelah anak laut bersekolah, waktu istirahat menjadi lebih sedikit.
Anak Laut (2)
Berkarang atau nebbe adalah pekerjaan mengasyikkan.

Dulu sebelum bersekolah, setiap air laut surut di hari yang terang anak laut pergi berkarang. Berbekal ember atau wadah seadanya, setapak demi setapak karang dirogoh. Jika beruntung ikan gigu yang terperangkap di karang bisa ditangkap. Selain ikan gigu, anak-anak laut sering mendapat udang dan ketam. Ikan gigu yang tidak laku dijual, dimasak untuk lauk makan sekeluarga. Saat ini kegiatan berkarang dilakukan usai bersekolah dan di hari libur.

Sejak kanak-kanak, anak laut dididik tidak takut kekurangan makan sekalipun ketika orangtua pergi berlakin. Berlakin atau berkelam merupakan kegiatan mencari ikan di tempat yang jauh dari pemukiman yang dilakukan hingga berhari-hari. Seperti orang tua mereka, anak laut biasa berinisiatif mencari hasil laut tanpa disuruh oleh siapapun. Anak laut terbiasa bekerjasama, misalnya mengajak teman yang tidak memiliki sampan. Hasil laut yang mereka peroleh dijual ke tauke, setelah sebagiannya disisihkan untuk lauk. Jika beras atau sagu habis, uang yang diperoleh digunakan untuk membeli bahan makanan. Saat mencari hasil laut dilakukan berdua, pembagian hasil dilakukan berdasarkan kesepakatan mereka.


Penulis: Ninuk Setya Utami 



[i] Nyandit dikenal juga dalam Bahasa Bajoe/Same lain dengan ngengedo, ngengendat atau ngungulur. Untuk istilah yang terakhir biasanya digunakan bukan hanya untuk menangkap cumi.
[ii] Nyulu kegiatan mencari ikan yang dilakukan di malam hari.

Anak Laut (2)