Anak Laut


Anak Laut

”Jangan tanya mengapa ayah tidak pulang
Dia adalah anak lautan
Dan bagai anak lautan. Laut adalah rumahnya
Duhai buah hati, besarlah duhai sayangku
Laut luas akan memanggilmu”

Itulah sebagian syair lagu yang sering ibuku nyanyikan saat aku kecil ketika mau tidur. Pada waktu itu ayahku tidak ada di rumah. Ia sedang melaut. Biasanya bila melaut ayah sering pergi berhari-hari lamanya.

Namaku Rambangpati. Keluargaku biasa disebut manusia perahu. Karena itu tentu saja aku dipanggil anak laut. Tempat tinggal kami sehari-hari memang di atas perahu yang cukup besar.

Pada bagian tengah badan perahu dibuat atap bagai rumah terapung. Disinilah tempat biasa kami sekeluarga berkumpul.

Suku Bajau itulah sebutan marga kami. Keluarga kami banyak menghuni pulau-pulau kecil di kawasan Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur serta sebagian Sulawesi yang berbatasan dengan Flores.

Dalam satu kelompok biasa terdiri dari dua puluh kepala keluarga yang menempati rumah berbentuk panggung.

Di bawah rumah panggung itulah kami mengikat perahu yang penuh dengan muatan, serta berbagai alat untuk menangkap ikan secara tradisional.

Namun ada perahu atau leppa bersama tumpukan alat-alat penangkap ikan, alat-alat dapur dan semua harta benda termasuk hewan piaraan. Karena itu setiap saat keluarga ini bisa berpindah dari satu pantai ke pantai lainnya.

Anak Laut
Beraktifitas di atas perahu  seperti biasa, saling berkunjung dan berbincang santai

Menurut ayahku manusia-manusia laut percaya Papu alias Dewa Pemberi Kehidupan telah membagi dunia ini menjadi dua bagian, laut dan darat.

Setiap bagian dimiliki oleh pemilik yang berbeda. Laut milik orang laut, darat milik orang darat, ‘sama ma dilao bagai tik kamadara’.

Dengan keyakinan itulah mereka tidak ingin turun ke daratan karena hal itu melanggar aturan leluhur.

Tugas mereka hanyalah menjaga dan memelihara milik mereka, yakni laut. ‘Menjaga’ dalam pengertian tidak boleh merusak kehidupan laut, tempat yang menjadi sumber kehidupan mereka.

Walaupun kami tinggal jauh di laut, tapi aku tetap bersekolah. Beruntunglah ada Pak Banias seorang guru yang mengabdi di daerah terpencil.

Setiap pagi ia menyambangi aku dan anak-anak lainnya dengan sampan mengajak kami untuk bersama-sama ke sekolah yang ada di desa tepi pantai.

Pak Banias mengajar kami sebagai guru merangkap kepala sekolah. Aku dan teman-teman sangat bangga padanya karena ia begitu semangat dan tulus hatinya selama membimbing kami.

Inilah uniknya sekolah yang ku jalani. Kami, murid dan guru berangkat bersama, belajar bersama dan pulang bersama dengan menggunakan sampan yang sama pula.

Sebagai orang laut tidak ada mata pencaharian lain bagi suku Bajau kecuali nelayan. Seperti hari ini aku diajak ayah berburu ikan Marlin. Kata ayahku, ikan Marlin berpindah dari dunia di bagian utara ke selatan melalui Indonesia bagian timur.

Pada saat berangkat, ikan Marlin itu masih kecil-kecil, namun saat akan kembali ke utara tubuhnya sudah berkembang menjadi besar. Pada saat itulah para nelayan memancing.

Caranya mudah. Aku, ayah, dan beserta nelayan lainnya menyiapkan beberapa jerigen plastik kosong yang berukuran cukup besar. Kemudian pegangan jerigen diberi tali tambang kecil dan pada ujung talinya dipasang pancing dengan umpan ikan-ikan kecil.

Hari itu perahu cakalang bermesin motor yang akan membawa kami memancing mulai melaju ke laut. Satu persatu pancingan itu kulempar, lalu kuulur. Setelah terasa berat oleh tarikan air laut, pancingan itu kulepas.

Panjang tali pancingan berkisar antara lima belas meter hingga tiga puluh meter, bahkan bisa mencapai lima puluh meter disesuaikan dengan dalamnya wilayah perairan yang kami lalui.

Pancingan itu kulempar di daerah di mana ikan Marlin biasa melewatinya. Daerah itu mudah dikenali karena ikan-ikan Marlin akan melompat-lompat ke permukaan laut ketika mereka melintas.

Tak lama kemudian jerigen-jerigen pancingan itu mengapung di atas permukaan laut. Bila ada jerigen yang terlihat timbul tenggelam, ayahku akan memberi aba-aba, berarti pancingan telah mengena.

Mulailah aku dan para nelayan lainnya sibuk menarik tali jerigen untuk mendapatkan ikan tersebut.

Ikan Marlin itu dinamakan ikan Marlin layaran. Panjangnya mencapai dua meter lebih dan moncong mulutnya mencapai lima puluh centimeter dengan sirip punggung yang lebar seperti layar.

Dan warna kulit ikan ini kebiru-biruan. Ikan Marlin dari utara ekornya berbentuk bulan sabit. Ikan-ikan yang kami tangkap, kemudian diawetkan dengan garam laut. Lalu dikeringkan.

Untuk menjual hasil tangkapan, para ibu membawanya ke pasar-pasar tradisional. Hari ini aku dan ibu berjualan. Jualan kami sangat laris. Katanya ikan tangkapan kami lebih gurih dibanding hasil tangkapan nelayan lain.

Setelah mendapat uang dari hasil penjualan, ibu juga menukar ikan-ikan kering dengan bahan makanan seperti beras, jagung, pisang, ubi-ubian dan lain-lain.

Itulah kehidupanku sehari-hari yang penuh dengan kesederhanaan namun aku tetap bangga dengan sebutan anak laut, karena laut adalah kehidupanku. Di atas laut aku lahir, dan dari laut pula kugantungkan hidupku.

Penulis: Kusuma Priyono ARS



Catatan:

Anak Laut 
atau Manusia Perahu adalah sebutan bagi Suku Laut atau Suku Bajoe/Same. Mereka tersebar hampir di semua perairan/laut Indonesia, termasuk yang terbesar ada di Kepulauan Sapeken, Madura, Jawa Timur. Akan tetapi, saat ini beberapa di antara telah banyak meninggalkan kehidupan berpindah-pindah dan menjadikan perahu sebagai rumah, meski tetap memilih tempat tinggal di daratan, akan tetapi mereka tetap memilih wilayah pesisir/tepi pantai.

Anak Laut