Lamak


Lamak, Anak Laut, Perempuan Laut, Bajoe, Same



Hari ini, perempuan paruh baya itu, telah lebih dari sepuluh kali bolak-balik pantai. Sarung yang menutupi kepalanya, tak kuasa meyembunyikan raut khawatir di wajahnya. Bukan, bukan hanya khawatir, ia terlihat begitu ketakutan ketika tersiar kabar tentang ombak di sebelah utara Pulau Bali mengamuk, sebuah perahu yang pulang berlayar terbalik.

Berita itu didengarnya kala ia bertanya kabar suaminya beberapa hari yang lalu kepada salah satu nakhoda yang baru tiba dari berlayar.

Berjalan cepat menyusuri pantai berpasir putih yang gembur, berjarak lebih dari dua kilo meter menuju ujung Utara Pulau Saur, ingin segera mendengar kabar bahwa suaminya baik-baik saja di seberang.

"Kami tak bertemu di pelabuhan, barangkali mampir atau berlabuh di lain tempat," ujar nakhoda yang ia tanya.

Lemah tak bertenaga, perempuan itu segera berbalik badan. Berat ia menyeret kakinya melangkah menyusuri pantai, kembali ke rumah. Ia menarik sarung yang menutupi kepala hingga menyembunyikan wajahnya yang berduka, sebaris air mengalir turun dari sudut matanya.

Sesampainya di rumah, dipeluknya anak-anak yang telah menunggu tak sabar. Bertanya tentang ayah mereka. Tak ada jawaban, tak ada kata-kata yang terdengar, hanya suara isak yang tak berselang lama, bersahutan dengan suara isak putrinya yang ikut menangis.

Seorang anak laki-lakinya yang asyik bermain di bawah rumah panggung, usianya belum genap 7 tahun, berlari riang menyambutnya pulang ke rumah. Anak laki-laki itu bingung, tak lama ia akhirnya ikut menangis. Perempuan itu memeluk erat kedua anaknya itu.

Perempuan itu sebenarnya memiliki tiga orang anak, anak laki-laki pertamanya, kini sudah berumur 10 tahun dan tinggal bersama orang tua suaminya sejak berumur 2 tahun, anak kedua perempuan, berumur 8 tahun, kini telah kelas dua sekolah dasar, dan anak ketiga, belum sekolah.

***

Cahaya matahari mulai berangsur redup, tenggelam di ufuk barat, di ujung samudera yang seolah tanpa batas. Perempuan itu, berdiri mengambil pemantik, menyalakan lentera kecil yang menempel di tiang ruang tengah rumah panggung itu. Dua anaknya mengekor di belakangnya, memegang sarung yang kini diselempangkan asal di pundaknya, mereka diam melihat ibunya yang muram dilanda duka.

"Mak, Emak belum makan dari pagi?" suara anak perempuannya.

"Tidak, Nak! Kalian saja yang makan. Emak tak lapar," jawab perempuan itu sambil menyiapkan makan anak-anaknya.

Ingin ia menjelaskan bahwa tak enak rasanya makan ketika Enci mereka justeru tak jelas kabarnya, tetapi anak-anaknya masih terlalu kecil untuk mengerti.

Laut adalah misteri yang wajib dipecahkan, amuk gelombang yang harus ditundukkan, sekaligus ketenangan yang sejuk untuk melihat kehidupan. Laut tak mungkin dipunggungi, karena laut adalah masa depan. Untuk itulah, berlayar di musim Barat meski mengirim pesan bahaya, tak sedikitpun membuat gentar para lelaki yang ada di pulau itu, termasuk juga para perempuan yang dengan sabar menunggu para suaminya pulang.

Begitulah setiap anak laut diajarkan, bukan dengan kata-kata apalagi sekadar merapal mantra 'nenek moyangku seorang pelaut'.

Namun, setangguh apapun mereka, seperti manusia umumnya, mereka juga was-was jika tersiar berita ada yang celaka, perahunya terbalik atau tenggelam dihantam ombak. Maka, seperti kabar yang menghampiri rumah perempuan itu, tentang perahu yang terbalik dihantam ombak di sebelah Utara Pulau Bali dan suaminya telah lebih seminggu keluar dari pelabuhan dan kini tak jelas di mana. Ia berduka, bahkan menangis.

Menangis dan menunda kenyang adalah bukti ia berempati, ikut merasakan perjuangan suaminya menaklukkan samudera. Begitulah kebiasaan setiap kali suaminya berangkat berlayar.

Sebenarnya bisa saja ia melarang suaminya berangkat berlayar, meskipun para toke mendesak untuk mengangkut muatan mereka. Toh, mereka juga tak punya sangkutan apapun dengan para toke tersebut. Namun, suaminya terlanjur menjadi salah satu tumpuan warga pulau untuk membeli stok kebutuhan rumah tangga yang mulai menipis, sebelum musim benar-benar tak bersahabat, dan laut tak berkenan diseberangi.

Jika ketersediaan minyak tanah habis, maka mereka tidak akan memiliki pilihan untuk penerangan rumah di malam hari, semua lampu mengandalkan nyala dari minyak tanah. Maka, mumpung baru di awal musim, gelombang laut belum terlalu besar, badai juga biasanya belum akan tiba, maka cukuplah sekali berlayar untuk memenuhi kebutuhan warga pulau itu. Ia mengiyakan alasan suaminya.

Begitulah, berlayar bukan hanya soal hidup satu dua orang. Tapi, juga tentang hajat warga pulau.

***

Perahu layar yang ditumpangi suaminya bersama tiga nakhoda, berangkat subuh buta, penuh sesak dengan muatan boka dan ikan asin yang sekaligus menjadi bekal mereka, selain dari sekarung beras dan se-drum air minum.

Boka dan ikan asin itu dijual kepada toke di kota, yang sudah menjadi langganan, terkadang bayarannya langsung diterima begitu selesai dibongkar dan ditimbang, kadang juga harus menunggu beberapa hari. Biasanya mereka tak membawa uang untuk belanja, bergantung kepada hasil penjualan boka dan ikan asin. Uang dari hasil penjualan muatan itulah yang akan menjadi modal mereka belanja, sehingga terkadang cepat dan lambat mereka pulang, tergantung cepat-lambat muatan mereka dibayar.

Berangkat membawa angkutan ikan asin dan boka, pulang juga tetap membawa angkutan, memenuhi lambung perahu dengan barang-barang yang menjadi kebutuhan warga pulau, sedikit untung untuk membeli baju atau makanan kesukaan anak-anak sebagai oleh-oleh.

Lama dibayar oleh toke sering menjadi kendala lamanya para palamak itu untuk pulang. Tetapi, kabar yang diterima perempuan itu, bahwa perahu suaminya tak terlihat ada di pelabuhan membuat ia diselimuti duka demikian hebat.

***

Hari yang kesepuluh. Perempuan itu berdiri di bibir senja, membiarkan kakinya yang tanpa alas dibelai ombak. Di belakangnya gelap mulai merayap di antara pepohonan, tetapi ia tetap enggan beranjak.

"Gelap hanyalah cahaya terhalang! Lihatlah, laut tetap terang!" ombak berbisik kepada pantai.

Perempuan itu menebar pandangan ke tengah, sampan-sampan nelayan masih jelas terlihat, bergerak ke utara di bentang laut yang luas.

"Namun, sebentar lagi laut juga pasti menjadi gelap," gerak bibirnya pelan.

"Karena laut tak datar," debur ombak buyar di antara pasir-pasir pantai yang putih.

"Jangan pernah biarkan hatimu bergelombang, diterpa kesedihan, atau ditumbuhi belukar dengki dan benci, karena seterang apapun pelita, cahaya akan terhalang!"

Mata perempuan itu basah, dua tetes air mata mengaliri pipinya. Ia membayangkan nasib buruk menimpa suaminya. Satu bulan telah berlalu, tetapi tak juga ada kabar tentang keberadaan suaminya.

Ia sudah bertanya kepada para lelaki yang pulang berlayar. Tak hanya sekali, sedikitnya ia telah bertanya ke lima orang 'sabi' dari perahu yang berbeda. Di pelabuhan yang menjadi tujuan tak tampak, berpapasan di tengah laut atau sakadar tersiar berita burung, perahu yang terdampar juga tak ada.

Mungkinkah, suaminya hilang?

Seminggu yang lalu badai mengamuk. Laut sama sekali tak bersahabat. Dan, ia sempat melarang suaminya untuk berlayar.

Perempuan itu berusaha menekan perasaannya untuk menyalahkan 'toke' yang memaksa suaminya mengangkut muatan ke Jawa.

______________
Catatan:

Lamak artinya berlayar. Lamak sebenarnya secara etimologi berarti layar. Barangkali karena kebiasaan orang-orang Bajoe, yang menjadikan layar sebagai tumpuan utama perahu saat berangkat ke tujuan (bukan untuk mencari ikan), maka berlayar disebut hingga kini (meski sudah menggunakan mesin) disebut lamak, dan orang yang berlayar disebut palamak. Berbeda dengan orang yang berangkat mencari ikan, disebut pamessi (pemancing), panyulu, pangarawe, pangoncor atau sebutan-sebutan lain.

Sabi : anak buah perahu/kapal.


Lamak