Perempuan Laut


Aku menyebutnya perempuan laut. Dialah yang mengajarkanku tentang kelembutan, walaupun aku sama sekali tak tertarik dengan ajarannya, alih-alih taat.


Menurutnya kelembutan mengalahkan yang keras, menenggelamkan kepongahan. Kala dilempar, laut selalu menerima, mendekap setiap batu yang keras dalam kedalaman batinnya, membiarkan setiap amukan menjadi riak kecil sebelum akhirnya lenyap sama sekali.

Paradoks. Perempuan laut jarang bertemu laut, tetapi kata-katanya yang irit selalu bicara tentang laut, tentang ombak dan arus, tentang ikan-ikan dan tentang pasir pantai yang putih.

"Bertahan dalam amukan gelombang adalah bergerak maju, karena diam berarti tenggelam," kata-katanya lirih di suatu sore ketika bercerita tentang para nelayan yang bangga memilih laut sebagai kehidupan, meski kadang bertaruh nyawa.

"Hanya ikan mati yang ikut arus!"

Aku kadang menjadi bingung, kala ia sedang semangat bercerita tentang laut, ceritanya justeru tentang kehebatan para nelayan, kehebatan ikan-ikan.

"Lautkah yang hebat? Atau penghuni laut?"

"Tak usah bingung, yang hebat tak pernah mengaku hebat, yang baik tak mendaku baik, ombak yang besar meminta siaga, laut yang jernih untuk berkaca!" suaranya menjawab kebingunganku. Aku selalu tak punya jeda untuk melamun. Seolah-olah Ia tak menginginkan setiap yang diucapkan itu dipikirkan dan dicerna.

"Kebaikan itu tidak dipikirkan, tidak lahir dari pikiran! Seperti air laut yang asin bukan karena digarami!" Kata-katanya yang hingga kini membingungkan.
"Maukah engkau memiliki hati lapang selapang samudera?" tanyanya ketika beranjak hendak tidur.

"Jangan pernah merasa memiliki apapun, sehingga tak berat memberi, tundukkan amarah dan berilah maaf seemua manusia. Laut yang luas atau samudera, tak cemar karena ribuan ton sampah, tak berbau busuk karena beribu bangkai!"


Perempuan Laut