Sajak-Sajak Nunung Noer El Niel - Anak Laut


Sajak-Sajak Nunung Noer El Niel - Anak Laut


anak laut

anak laut utara bermantra ombak
menyisir pesisir benua yang hilang
membelah ombak dengan doa musa
menyeberangi lautan seperti daratan

terbelahlah seluruh kesangsian
berlayar di atas kayakinan yang mapan
kembangkan layar angin meniupkan tujuan
anak laut adalah anak badai dan topan
seperti isa di ujung buritan
meredakan seluruh kegalauan

bau garam di udara tercecap di lidah
anak laut mebuihkan aksara
mencari ibu dari segala makna
menyibak tradisi melalui hempasan adat
di perbatasan samudra anak laut tersekat
dari impian yang belum juga tamat

Denpasar, 16112012

Betinanya Perempuan

menyusun matahari di luar musim
mengatur bulan di dalam malam
aku telah menyiangi seluruh waktu
untuk tak sekadar tumbuh
bersama hujan yang selalu luruh
pada setiap percakapan yang kuyup
tanpa desah napas berkepanjangan

sudah kudengar sabda langit
yang dikicaukan burung-burung
sudah kudengar sabda laut
yang dikabarkan ikan-ikan
sudah kudengar sabda bumi
yang menumbuhkan segala harapan

maka biarkan aku menjema gerhana
menciptakan bayangan demi bayangan
di antara lapisan-lapisan cahaya
tanpa harus terbakar atau lesap
hanya untuk sebuah pernyataan
di antara napas gender yang binal
: di antara betinanya perempuan

Denpasar    09 01 2017


Beach

di atas pasir pantai kuta
masih ada jejak lautmu
ada buih dan gelombang
membuatku selalu terdampar
tanpa pernah kutahu
di mana harus menambatkan
semua kenangan
bukan sekadar kerinduan
untuk datang dan pergi

di atas bentangan pantai sanur
masih ada kisah tertambatkan
untuk tidak sekadar diceritakan
dalam bahasa puisi dan prosa
tanpa pernah kutahu
di mana awal dan akhirnya
setiap percakapan
kecuali menautkan tatapan
bukan sebagai nelayan
menambatkan perahu
di sepanjang bibir pantai terbuka

di tepi pantai berdinding pandawa
gema ombak suaramu memantul
tak perduli pada terik
dan pasir yang berkilau
jika semua tak ada yang sia-sia
kecuali yang terpahat
pada dinding jiwa yang abadi
tanpa menyebut atas nama cinta
tempat mengurai segala duka
menjadi gema tertawa bersama
di dalam suka tak ada habisnya

di tepi pantai tanah lot senja mengatup
dalam drama tarian kecak
di mana cinta dan prahara
tak pernah usai dipentaskan
kecuali untuk terus dilakonkan
sebagai anak manusia dengan kodratnya

Denpasar 13 06 2017



Perempuan Pantai

di pantai mana lagi ada ombak
merayu dengan buih-buihnya
untuk selalu memanggilku kembali

dari garis pantai hingga sejauh mata memandang
di antara batas langit dan laut yang menyatu di cakrawala
sudah kuhirup bau garam di udara
tempat di mana aku mengasinkan seluruh perjalananku

maka kini apakah aku harus kembali bertanya
di mana lelaki yang menyimpan perahu, pembuka layar
agar aku dapat mengarungi semua sisa perjalanan
sebagai perempuan pantai yang duduk di
singgasana istana pasir?

haruskah aku menunggu gaunku yang basah
sampai mengering dihembus angin
tersingkap oleh naluri dan ilusi
jika semua adalah waktu di luar kodrat dan takdir

deru ombak itu terus menggulungku
dengan selimut buih-buihnya
tanpa pernah dapat aku pahami
apakah itu jawaban atau pertanyaan tanpa akhir
: aku hanya dapat memahaminya dalam kebisuan....

Pantai Pandawa – Bali,   30 10 2017



Warisan Peradaban

laut adalah jiwaku yang mengalun dan bergelombang
sesekali aku menghempaskan diriku pada setiap pulau
di mana pantai-pantainya membuka dirinya
untuk selalu datang dan pergi

apa lagi yang dapat kulukiskan
dari seluruh lekuk dan liku tanah airku
ketika gunung dan lautan mencapai
puncak ketinggian dan keluasan
di sana seluruh harapan tersimpan
dari masa lalu hingga masa depan

apa lagi yang dapat kudengarkan
ketika kicau burung-burung terbang
membawa seluruh tradisi lisan di paruhnya
dengan pantun anak-anak bangsa
dihembuskan angin dari delapan penjuru
tentang adat dan istiadat para leluhur
sebagai warisan peradaban
di mana anak-anak negeri bersantun

apa lagi yang dapat kuterjemahkan
ketika seluruh aksara menjadi satu bahasa
di mana seluruh anak-anak negeri
mengibarkan seluruh semangat kebangsaan
meskipun berbeda-beda hanya satu
di sanalah napas dan ruh bangsaku
tak lekang di sepanjang waktu

Denpasar, 23 Juli 2018

Sajak-Sajak Nunung Noer El Niel - Anak Laut